Saat Tubuh Perempuan Jadi Bahan Perbincangan Publik

Penulis: Sri Rahayu
Jumat, 07 Agustus 2026 | 19:14:00 WIB

Nama Ariana Grande kembali menghiasi pemberitaan, bukan hanya karena karyanya, melainkan juga keputusannya untuk mengambil jeda dari hiruk-pikuk industri hiburan. Pengumuman ini ia sampaikan di sela-sela konsernya di Chicago, awal bulan ini. Ia menegaskan bahwa ini bukan keputusan impulsif, melainkan sesuatu yang sudah lama ia rencanakan.

"Ini bukan reaksi sesaat. Saya sudah memikirkannya matang-matang dan datang dari tempat yang penuh keyakinan," ujarnya kepada para penggemar, seperti dilansir Variety.

Keputusan ini muncul di tengah riuhnya perbincangan warganet tentang perubahan bentuk tubuhnya dalam beberapa tahun terakhir. Sorotan tersebut semakin deras sejak ia membintangi film Wicked dan berlanjut pada perilisan album terbarunya. Banyak yang berspekulasi tentang kondisi kesehatannya, bahkan ada yang dengan yakin mendiagnosis gangguan makan.

Di sisi lain, tak sedikit pula yang membela dan menganggap komentar-komentar tersebut sebagai bentuk pengekangan terhadap tubuh perempuan. Perdebatan ini seakan memecah belah publik menjadi dua kubu yang saling berhadapan, dan yang justru terlupakan adalah bagaimana kita bisa menyikapi hal ini dengan bijak dan penuh empati.

Dua Sisi Mata Pisau: Menghormati Tubuh vs. Menormalisasi Tren

Perdebatan tentang tubuh Ariana menyoroti dilema yang sering kita hadapi. Di satu sisi, kita ingin menghargai keputusan dan kondisi setiap individu. Di sisi lain, kita khawatir jika tidak ada yang menyuarakan keprihatinan, kita justru ikut menormalkan standar tubuh yang tidak sehat, terutama bagi generasi muda yang mudah terpengaruh.

Ariana sendiri pernah menanggapi komentar-komentar tersebut pada tahun 2023. Ia mengaku bahwa kondisinya saat itu adalah versi paling sehat dari dirinya. "Sehat itu bisa berbeda-beda untuk setiap orang. Kita tidak pernah tahu apa yang sedang dialami orang lain, jadi meskipun niat kita baik, bisa saja orang tersebut sedang berjuang," tuturnya.

Psikolog Kim Lampson menyoroti kembalinya tren tubuh kurus yang kini menggeser gerakan body positivity. Tren ini seringkali dikaitkan dengan gaya hidup selebriti dan penggunaan obat pelangsing yang semakin populer. Lampson sendiri mengaku pernah terpengaruh oleh tren serupa di masa mudanya, yang berujung pada gangguan makan.

Pengaruh Selebriti dan Tanggung Jawab Publik

Sebagai publik figur, setiap langkah dan penampilan Ariana tentu memiliki pengaruh besar. Banyak penggemar, terutama perempuan muda, yang mungkin meniru gaya hidupnya tanpa mengetahui konteks yang sebenarnya. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri, seperti yang disampaikan oleh aktivis Jameela Jamil.

Jameela menuliskan di media sosialnya bahwa mengomentari tubuh Ariana bisa memperburuk kondisi mentalnya, namun diam juga berisiko menormalkan citra tubuh yang tidak sehat bagi jutaan penggemarnya. Ini adalah dilema yang nyata.

Penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap citra selebriti dan kebiasaan membandingkan diri dengan mereka dapat berdampak negatif pada cara pandang seseorang terhadap tubuhnya sendiri. Fenomena ini bukanlah hal baru. Taylor Swift dan Lorde, misalnya, pernah mengungkapkan pengalaman pahit mereka berjuang melawan komentar publik tentang tubuh mereka.

Belajar Berempati dan Lebih Bijak Berkomentar

Kita perlu belajar untuk lebih bijak dalam berkomentar, terutama di media sosial. Kritik yang membangun dan didasari kepedulian tentu berbeda dengan komentar yang menyerang dan mendiagnosis tanpa dasar. Kita tidak pernah tahu perjuangan apa yang sedang dialami seseorang di balik layar.

Daripada ikut-ikutan menghakimi, kita bisa mengalihkan fokus pada hal-hal yang lebih positif, seperti mendukung karya dan prestasi seseorang. Kita juga bisa mulai mengedukasi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita tentang pentingnya menerima tubuh kita apa adanya.

Pada akhirnya, keputusan Ariana untuk hiatus adalah hak prerogatifnya. Kita sebagai penonton bisa mengambil pelajaran bahwa tubuh perempuan bukanlah konsumsi publik. Mari kita ciptakan lingkungan yang lebih suportif dan penuh empati, di mana setiap orang merasa aman dan nyaman menjadi dirinya sendiri.

Reporter: Sri Rahayu