Hidup di sekitar proyek panas bumi ternyata tak selalu seindah janji energi hijau. Warga di tiga wilayah Indonesia—Bondowoso, Mandailing Natal, dan Ngada—merasakan sendiri bagaimana impian energi bersih berdampak langsung pada keseharian mereka. Mulai dari bau gas yang tak kunjung hilang, air sumur yang berubah rasa, hingga hasil panen yang menurun drastis.

Bau yang Tak Bisa Dihindari

Di Desa Kalianyar, Bondowoso, anak-anak TK bahkan sudah hafal dengan aroma khas yang sering muncul sejak pengeboran dimulai tahun 2020. Mereka menyebutnya 'bau pengeboran'. Baunya seperti campuran gas bocor dan telur busuk, muncul tiba-tiba setelah hujan dan bisa bertahan hingga dua puluh menit. Ini berasal dari gas hidrogen sulfida (H?S) yang dilepaskan PLTP Ijen Blawan, yang mulai beroperasi pada Februari 2025.

Pipa-pipa uap membentang di atas lahan pertanian, sementara rumah warga hanya berjarak kurang dari 100 meter dari fasilitas. Tak heran, aroma itu jadi teman setia yang tak diundang.

Air Berubah, Kesehatan Terganggu

Keluhan warga tak berhenti di bau. Sumber air yang dulu jernih kini berbau belerang, bahkan di beberapa tempat air berubah warna. Warga mengeluhkan gangguan kesehatan seperti pusing, mual, dan iritasi kulit. Hasil pertanian pun ikut merosot—tanaman padi dan sayuran tak lagi subur seperti dulu.

Di Mandailing Natal, Sumatera Utara, PLTP Sorik Marapi yang beroperasi sejak 2019 beberapa kali mengalami kebocoran gas H?S. Laporan JATAM menyebut paparan gas ini bisa menyebabkan pingsan hingga kelumpuhan pernapasan. Sementara di Mataloko, NTT, proyek yang sempat berhenti karena kerusakan mesin kini kembali bergulir, meninggalkan warga dengan pertanyaan yang belum terjawab.

Proyek Strategis, Dampak Nyata

Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas panas bumi sebesar 5.200 MW dalam rencana listrik 2025–2034. Sejumlah proyek mendapat status Proyek Strategis Nasional. Namun, Sub Koordinator Konservasi Energi, Muhammad Attar Majid, mengakui respons masyarakat tak seragam. "Banyak yang menolak, ada juga yang menerima karena efeknya," ujarnya.

Magdalene menelusuri tiga lokasi dengan model pengelolaan berbeda: Ijen (patungan asing-Indonesia), Mandailing Natal (95% saham asing), dan Mataloko (BUMN). Meski berbeda, warga di ketiga tempat mengalami dampak serupa: sumber air berubah, kesehatan terganggu, dan pertanian menurun.

Kisah ini adalah pengingat bahwa transisi energi tak boleh mengorbankan mereka yang tinggal paling dekat dengan sumbernya. Sudah saatnya suara warga didengar, bukan hanya mimpi energi bersih yang dikejar.