Kamu pasti pernah melihatnya—video viral suporter Jepang dengan setia memunguti sampah di tribun stadion setelah pertandingan usai. Mulai dari botol plastik hingga bungkus makanan, mereka menyisir setiap sudut dengan penuh kesadaran. Fenomena ini, yang dikenal sebagai gomi hiroi, bukanlah hal baru. Namun, di balik apresiasi global, ada kritik pedas yang justru datang dari dalam negeri.

Akar Budaya yang Kuat

Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat nilai yang melatarbelakanginya. Di Jepang, kebersihan bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari identitas. Anak-anak diajarkan membersihkan kelas sendiri tanpa bantuan petugas. Mereka tumbuh dengan pemahaman bahwa ruang publik adalah milik bersama yang harus dirawat. Konsep mottainai—rasa sayang terhadap barang dan lingkungan—juga turut membentuk sikap ini. Jadi, ketika suporter Jepang membersihkan stadion, mereka melakukan apa yang sudah tertanam sejak kecil.

Pujian dari Mata Dunia

Media internasional sering menyoroti aksi ini sebagai contoh kedisiplinan dan rasa hormat. Suporter Jepang dianggap sebagai tamu yang bertanggung jawab, meninggalkan kesan positif bagi tuan rumah. Mereka tidak hanya mendukung tim dengan sorak-sorai, tetapi juga dengan tindakan nyata. Banyak yang membandingkannya dengan suporter negara lain yang kerap meninggalkan stadion kotor. Tidak heran jika aksi ini menjadi viral dan dibagikan jutaan kali di media sosial.

Kritik dari Dalam Negeri

Namun, tidak semua orang Jepang bangga dengan pencitraan ini. Sebagian mengkritik bahwa gomi hiroi di luar negeri telah kehilangan esensinya. Mereka berpendapat, aksi bersih-bersih itu kini lebih sering dilakukan untuk kamera, bukan karena kesadaran tulus. Ada kekhawatiran bahwa hal ini menjadi semacam 'pamer moral' yang justru kontraproduktif. Kritik ini muncul terutama di kalangan muda Jepang yang merasa bahwa kebersihan di dalam negeri sendiri belum sepenuhnya ideal. Misalnya, masih banyak tempat umum di Jepang yang kurang terawat, dan sampah masih berserakan di beberapa sudut kota. Mereka bertanya, mengapa harus bersih-bersih di luar negeri jika di rumah sendiri masih ada pekerjaan rumah yang belum kelar?

Dampak Positif yang Tak Terbantahkan

Terlepas dari kritik, dampak positif gomi hiroi tetap terasa. Aksi ini menginspirasi suporter dari negara lain untuk ikut membersihkan stadion. Dalam psikologi sosial, fenomena ini disebut social proof—orang cenderung meniru perilaku baik yang dilihatnya. Konsistensi suporter Jepang sejak Piala Dunia 1998 hingga 2026 menunjukkan bahwa ini bukan sekadar tren. Mereka telah mengubah citra suporter sepak bola dari sekadar perusuh menjadi agen kebersihan.

Antara Tulus dan Pencitraan

Pertanyaan tentang ketulusan mungkin tidak akan pernah terjawab sepenuhnya. Namun, yang jelas, aksi ini telah membawa perubahan kecil tapi berarti. Stadion menjadi lebih bersih, dan pesan tentang tanggung jawab terhadap ruang publik tersebar luas. Mungkin yang terpenting bukanlah motif di balik aksi tersebut, melainkan dampak nyata yang dihasilkan. Jadi, saat kamu melihat suporter Jepang memungut sampah, ingatlah bahwa di balik setiap gerakan ada cerita panjang tentang budaya, kritik, dan harapan.