Kata 'toxic' atau beracun sering kali kita sematkan pada hubungan yang tidak sehat, entah itu dengan pasangan, teman, atau rekan kerja. Tapi, pernahkah kita bertanya-tanya, apakah kita sendiri tanpa sadar menjadi orang tua yang toxic bagi anak-anak kita?

Anak adalah peniru ulung. Apa yang kita lakukan, mereka serap seperti spons. Kebiasaan buruk yang kita tunjukkan bisa berdampak jangka panjang, bahkan menjadi trauma yang terbawa hingga dewasa. Agar hal itu tidak terjadi, simak sembilan kebiasaan toxic berikut yang mungkin tanpa sadar kita lakukan.

1. Emosi yang Tidak Terkendali

Sebagai manusia, wajar jika kita mengalami emosi yang meluap-luap. Tapi, jika anak-anak terus-menerus hidup dalam kekhawatiran akan suasana hati orang tuanya, itu masalah besar. Mereka jadi merasa harus selalu hati-hati dan takut membuat kita marah. Padahal, anak butuh konsistensi emosional agar merasa aman.

2. Batasan yang Kabur

Kadang kita terlalu terbuka pada anak, menceritakan semua masalah pribadi, atau justru terlalu ikut campur dalam urusan mereka. Kurangnya batasan membuat anak jadi sangat bergantung dan sulit menyelesaikan masalah sendiri. Mereka juga bisa merasa perlu menjauh karena kewalahan dengan kedekatan yang berlebihan.

3. Memaksakan Jalan Hidup Kita

Setiap anak punya jalannya sendiri. Tapi, sebagai orang tua, naluri kita seringkali ingin mengarahkan mereka ke 'jalan yang benar' menurut versi kita. Padahal, jika terlalu dipaksakan, anak kehilangan kesempatan untuk belajar dari kesalahan dan mengembangkan kemandirian. Biarkan mereka memilih dan tumbuh dengan cara mereka sendiri.

4. Overprotektif dan Terlalu Mengontrol

Mengawasi pergaulan, melacak setiap gerakan, atau memilihkan semua tontonan mungkin terlihat sebagai wujud sayang. Tapi, pengawasan yang berlebihan justru bisa memicu pemberontakan dan membuat anak tidak percaya diri. Mereka perlu ruang untuk bernapas dan belajar mandiri.

5. Memanfaatkan Rasa Bersalah

Kalimat seperti 'Ibu sudah susah-susah, masa kamu begini?' atau 'Ayah kecewa sama kamu' sering kali dilontarkan tanpa sadar. Ini adalah bentuk manipulasi yang membuat anak merasa bersalah dan tidak mampu. Akibatnya, mereka jadi sulit mengambil keputusan sendiri dan cenderung menyembunyikan masalah.

6. Gaslighting

Ini adalah kebiasaan yang sangat berbahaya. Gaslighting terjadi ketika kita menyangkal, memutarbalikkan, atau meremehkan perasaan anak. Contohnya, 'Ah, kamu lebay,' atau 'Itu nggak terjadi, kamu ngaco.' Anak jadi ragu pada persepsinya sendiri dan kehilangan kepercayaan diri.

7. Komentar soal Tubuh dan Makanan

Mengomentari berat badan atau bentuk tubuh anak, entah itu pujian atau kritik, bisa memicu masalah citra tubuh yang serius. Begitu juga dengan komentar soal kebiasaan makan. Anak bisa jadi stres dan terobsesi dengan penampilan atau berat badan.

8. Memaksa Anak Memilih

Dalam situasi perceraian atau konflik rumah tangga, jangan pernah memaksa anak untuk memihak salah satu orang tua. Ini menempatkan mereka pada posisi yang sangat sulit. Anak butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya tanpa harus memilih.

9. Membuat Anak Merasa Tidak Diinginkan

Pernahkah kita bilang, 'Dasar anak merepotkan,' atau 'Kalau nggak ada kamu, Mama bisa istirahat'? Ucapan seperti itu, meski hanya candaan, bisa membuat anak merasa keberadaannya adalah beban. Mereka tumbuh dengan perasaan tidak dicintai dan tidak berharga.

Menjadi orang tua memang tidak mudah. Tapi, dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan ini, kita bisa mulai berbenah. Ingat, anak-anak belajar dari apa yang kita lakukan, bukan dari apa yang kita katakan. Yuk, jadi orang tua yang lebih baik untuk mereka.