Beberapa waktu lalu, aku memutuskan untuk lari santai di kawasan Gelora Bung Karno. Namun, yang kudapat bukan sekadar angin segar, melainkan kejutan dari jam tangan pintarku. Angka denyut jantungku melonjak hingga 179 bpm, padahal biasanya hanya 155 bpm untuk kecepatan yang sama. Keringat pun mengucur lebih deras, membuatku bertanya-tanya, ada apa dengan tubuhku?

Ternyata, pengalaman serupa juga dialami oleh Bagus, seorang pelari jarak jauh yang biasa menempuh puluhan kilometer. Ia mengaku detak jantungnya terasa lebih kencang bahkan sebelum mulai berlari. 'Belum mulai aja heart rate-ku sudah 150-an,' katanya. Kami bukan sedang sakit, melainkan sedang melawan kondisi lingkungan yang sedang tidak bersahabat.

Jakarta: Kota yang Tak Ramah bagi Pelari

Sebagai warga Jabodetabek, aku sudah terbiasa dengan suhu panas dan kelembapan tinggi. Namun, hari itu terasa berbeda. Data dari IQAir menunjukkan kualitas udara Jakarta berada di angka 184 dengan konsentrasi PM2,5 yang sangat tinggi, 20,4 kali lipat dari batas aman WHO. Bahkan, Jakarta sempat menempati posisi ketiga kota dengan udara terburuk di Indonesia. Ini bukan kasus sesaat; secara konsisten, kualitas udara Jakarta selalu melampaui standar kesehatan dunia.

Ironisnya, tren lari di Indonesia justru meningkat pesat. Catatan dari Garmin menunjukkan ada 5,1 juta aktivitas lari dalam lima bulan pertama tahun ini, naik 46 persen dibanding periode yang sama sebelumnya. Banyak orang, termasuk aku, memilih lari karena dianggap mudah, murah, dan praktis. Namun, semangat ini harus berbenturan dengan kenyataan bahwa kita mencari sehat di tengah lingkungan yang tidak mendukung.

Yuyun Harmono dari Greenpeace Indonesia mengingatkan bahwa selain polusi, suhu panas juga menjadi ancaman. 'Jangan sampai kita cari sehat malah berujung sakit,' ujarnya. Para ahli kesehatan pun sependapat. Dr. Agus Dwi Susanto dari FKUI menjelaskan bahwa berolahraga di tengah polusi tinggi membuat kita menghirup lebih banyak zat berbahaya. Sementara itu, dr. Antonius Andi Kurniawan menambahkan bahwa suhu panas bisa memicu kenaikan detak jantung dan kelelahan lebih cepat.

Bukan Hanya Tanggung Jawab Individu

Sebagai individu, kita memang bisa memilih waktu dan tempat yang lebih aman untuk berlari. Namun, Yuyun menekankan bahwa pemerintah juga harus berperan. 'Masalah ini sistemik, dari industri hingga pembangkit batu bara,' tegasnya. Selama kebijakan pengendalian polusi belum maksimal, para pelari akan terus berjuang melawan kondisi yang tidak sehat.

Pengalamanku berlari di tengah panas dan polusi membuatku sadar, hidup sehat di Jakarta bukan hanya soal disiplin, tetapi juga soal lingkungan yang mendukung. Sampai ada perubahan nyata, kita harus tetap waspada dan mendengarkan sinyal tubuh.