Membukakan pintu untuk orang lain mungkin terlihat sepele. Namun, siapa sangka kebiasaan kecil ini bisa mengungkap sisi kepribadian seseorang? Menurut psikolog Art Markman, Ph.D., ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan hal tersebut, mulai dari sifat teliti hingga faktor sosial. Penasaran? Simak penjelasannya berikut ini.

1. Tidak Mementingkan Diri Sendiri

Orang yang gemar menahan pintu cenderung memiliki sifat altruistis. Mereka rela mengorbankan waktu dan tenaga ekstra demi kenyamanan orang lain. Tindakan ini menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu berpusat pada kepentingan diri sendiri.

2. Memiliki Perilaku Prososial

Perilaku prososial adalah tindakan yang bertujuan membantu atau memberi manfaat bagi orang lain. Membukakan pintu adalah salah satu contohnya. Penelitian terbaru bahkan menemukan hubungan positif antara perilaku prososial dan kesehatan mental. Jadi, semakin sering Anda membantu orang lain, semakin baik pula kesehatan mental Anda.

3. Peka terhadap Lingkungan Sekitar

Untuk bisa membukakan pintu, seseorang harus menyadari keberadaan orang di belakangnya. Ini menunjukkan kepekaan terhadap sekitar. Mereka tidak hanya fokus pada tujuan sendiri, tetapi juga memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya.

4. Mempertimbangkan Kenyamanan Orang Lain

Menahan pintu selama beberapa detik berarti bersedia mengubah perilaku demi kenyamanan orang lain. Kecenderungan ini tercermin dalam berbagai tindakan prososial sehari-hari, seperti membantu, berbagi, atau memberi dukungan.

5. Kecenderungan Kooperatif

Membukakan pintu juga bisa dilihat sebagai bentuk kerja sama. Ketika seseorang menahan pintu, orang di belakang biasanya mempercepat langkah. Penelitian menunjukkan bahwa tindakan ini menciptakan kerja sama kecil antara dua orang, bahkan yang tidak saling kenal.

Mengapa Orang Melakukan Hal Ini?

Penelitian Joseph Santamaria dan David Rosenbaum pada 2011 mengungkap bahwa keputusan menahan pintu berkaitan dengan upaya meminimalkan usaha keseluruhan. Ketika ada orang di belakang, orang di depan menahan pintu agar orang berikutnya tidak perlu membuka sendiri. Sebaliknya, orang di belakang juga mempercepat langkah. Jadi, ini bukan sekadar sopan santun, tetapi juga bentuk efisiensi sosial.

Meski begitu, kebiasaan membukakan pintu tidak bisa dijadikan patokan mutlak untuk menilai kepribadian seseorang. Bisa jadi seseorang melakukannya karena kebiasaan atau norma sosial. Namun, setidaknya tindakan kecil ini memberi gambaran tentang bagaimana seseorang berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.