Kecerdasan artifisial (AI) kini menjelma menjadi sahabat baru dalam dunia kecantikan. Bukan lagi sekadar tren, tetapi sudah menjadi kenyataan yang mengubah cara kita menemukan dan memercayai produk perawatan kulit. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa konsumen Indonesia semakin mengandalkan AI untuk menjawab pertanyaan seputar kecantikan, mulai dari bahan yang aman hingga merek yang tepat.

AI, Sumber Informasi Baru yang Mendominasi

Menariknya, studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar informasi yang digunakan AI untuk menjawab pertanyaan kita berasal dari sumber di luar kendali merek. Hanya sekitar 11,6% rujukan pada pertanyaan umum tentang kecantikan yang berasal dari kanal resmi merek. Sebaliknya, media berita, sumber kesehatan, dan medis menyumbang porsi terbesar, mencapai 46,6%. Artinya, ketika kita bertanya pada AI, jawabannya lebih banyak dipengaruhi oleh artikel berita, ulasan media, dan informasi medis dibandingkan situs resmi brand.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perjalanan pembelian kita tidak lagi dimulai dari nama merek, melainkan dari sebuah pertanyaan. Kita bertanya pada AI, lalu AI memberikan rekomendasi berdasarkan berbagai sumber yang dipercayainya.

Platform AI, Karakter yang Berbeda

Setiap platform AI ternyata memiliki preferensi sumber yang berbeda. Microsoft Copilot, misalnya, sangat bergantung pada berita dan media (53,1%), sementara Google AI Overview lebih banyak mengutip dari sosial, blog, dan komunitas (28,1%). ChatGPT menampilkan komposisi yang lebih beragam, dengan sumber kesehatan dan medis mendominasi (23,7%). Perbedaan ini menandakan bahwa tidak ada satu strategi komunikasi yang bisa diterapkan seragam untuk semua platform.

Bagi kita sebagai konsumen, ini berarti penting untuk menyadari bahwa jawaban AI bisa berbeda tergantung platform yang digunakan. Maka, bijaklah dalam memilih dan memverifikasi informasi.

Topik Kecantikan dan Sumber Rujukannya

Studi ini juga memetakan tujuh topik utama dalam keputusan kecantikan, masing-masing dengan sumber rujukan yang khas:

  • Efektivitas dan Kecocokan: 45,5% rujukan berasal dari sumber kesehatan dan medis, sementara situs merek hanya 10,5%.
  • Harga dan Nilai: Berita dan media menjadi acuan utama (36,8%), mengalahkan halaman harga resmi merek.
  • Keamanan dan Kepatuhan: Regulasi, pemerintah, dan sertifikasi (termasuk BPOM dan lembaga halal) menyumbang 22,8% rujukan.
  • Keyakinan dan Kesesuaian Budaya: Di sinilah kanal milik merek mencapai porsi tertingginya, 21,3%, terutama untuk pertanyaan seputar status halal.
  • Ketersediaan dan Kanal Penjualan: 15,5% rujukan justru berasal dari situs perusahaan di luar industri kecantikan.
  • Reputasi dan Ulasan: Situs merek hanya menyumbang 7,6% dari rujukan.
  • Bahan dan Formulasi: Basis data bahan hanya menyumbang 0,5% rujukan terkait kandungan produk.

Menariknya, untuk pertanyaan seputar kehalalan produk, kanal milik merek justru menjadi sumber utama. Ini menunjukkan bahwa merek yang mampu membangun kepercayaan melalui informasi halal yang jelas akan lebih mudah direkomendasikan AI.

Media Umum vs Media Kecantikan

Salah satu temuan yang menantang asumsi adalah bahwa media umum justru lebih sering dirujuk AI dibandingkan media khusus kecantikan. Fokus pada satu topik tidak otomatis membuat sebuah media menjadi sumber utama bagi AI. Hal ini mengingatkan kita bahwa AI cenderung mencari sumber yang kredibel dan luas cakupannya.

Di media sosial, visibilitas juga tidak selalu identik dengan influencer. Di Instagram, hanya 4 dari 10 profil yang paling sering dirujuk adalah kreator individu. Di YouTube, kanal Female Daily paling sering dirujuk, disusul oleh seorang dokter kecantikan. Sementara di Lemon8, tidak ada satu akun pun yang mendominasi. Ini berarti, sebagai konsumen, kita perlu lebih kritis dalam memilih sumber informasi kecantikan di media sosial.

Konten Lama Tetap Relevan

Sebanyak 61,3% rujukan AI berasal dari konten yang terbit dalam 12 bulan terakhir. Namun, sekitar 17% masih merujuk pada halaman yang berusia lebih dari tiga tahun. Artinya, informasi lama tetap bisa menjadi acuan selama relevan dan akurat. Jadi, tidak perlu heran jika AI kadang merekomendasikan produk yang sudah lama beredar.

AI Visibility: Metrik Baru bagi Merek

Studi ini memperkenalkan konsep AI visibility, yaitu seberapa sering sebuah merek muncul dalam jawaban AI. Metrik ini tidak mengukur penjualan, tetapi menjadi indikator penting bagi merek untuk memahami posisi mereka di mata AI. Bagi kita, ini adalah pengingat bahwa kehadiran merek dalam jawaban AI bisa memengaruhi pilihan kita, entah kita sadari atau tidak.

Pada akhirnya, AI telah menjadi penasihat kecantikan yang powerful. Kita sebagai konsumen perlu cerdas dalam menyaring informasi, sementara merek perlu beradaptasi dengan lanskap baru ini. Jangan ragu untuk tetap kritis dan selalu cek ulang informasi dari sumber terpercaya.