"Anak perempuan hanya perlu dilihat, tidak didengar." Kalimat itu mungkin terdengar familiar bagi sebagian dari kita. Aktris Nadine Alexandra pernah mengalaminya langsung dari sang ayah semasa kecil. Ucapan itu terus terngiang, bahkan hingga ia dewasa. Saat journaling, ia menyadari bahwa kalimat tersebut menjadi akar ketakutannya untuk bersuara. "Itu membuat luka yang sangat dalam, dan aku baru mulai mengobatinya," ujarnya dalam sebuah sesi berbagi.

Pengalaman Nadine bukan hal langka. Dalam sistem patriarki, perempuan sering dibatasi sejak dini—di rumah, sekolah, hingga dunia kerja. Pola asuh yang membedakan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan membuat banyak perempuan tumbuh dengan keraguan diri. Kondisi inilah yang kemudian dikenal sebagai impostor syndrome, perasaan meragukan kemampuan sendiri seolah kesuksesan hanyalah kebetulan.

Dari Rumah ke Ruang Kerja

Nadine mengisahkan pengalaman pahitnya di sekolah. Saat ia aktif berpartisipasi di kelas, gurunya menegurnya dengan kata "overconfident". Sementara siswa laki-laki yang sama aktifnya tidak mendapat perlakuan serupa. "Kalau aku aktif, gurunya malah bilang aku terlalu percaya diri," kenangnya. Perlakuan tidak adil seperti ini, menurut podcaster Hannah Al Rashid, membuat perempuan kehilangan rasa percaya diri. Ia mengutip buku The Authority Gap karya Mary Ann Sieghart (2021) yang menyebut bahwa perempuan sering diminta untuk tenang dan diam, sementara anak laki-laki didorong untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan diri.

Tak berhenti di bangku sekolah, tantangan berlanjut di dunia kerja. Nadine beberapa kali dipermalukan oleh atasannya di depan umum tanpa alasan jelas. Ia merasa hal itu dilakukan untuk menempatkannya pada posisi tidak nyaman. "Itu sangat meyakinkan bahwa aku pantas dipermalukan, bahwa ada yang salah dengan diriku," tuturnya. Pengalaman seperti ini memperkuat suara negatif di dalam kepala yang terus menghantui.

Membangun Kembali Kepercayaan Diri

Meski akar masalahnya sistemik, Nadine dan Hannah percaya bahwa perempuan tidak bisa hanya menunggu dunia berubah. Ada langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan untuk melawan impostor syndrome. Pertama, lakukan hal-hal yang kamu sukai dan kelilingi dirimu dengan orang-orang yang mendukung. Hannah mengatakan bahwa kepercayaan dirinya tumbuh saat ia mengerjakan proyek bersama teman-teman yang menjadi "guru dan sekutu".

Kedua, ubah cara pandang ketika kamu dipilih untuk suatu pekerjaan atau kesempatan. Alih-alih meragukan diri, yakinkan diri bahwa ada alasan baik mengapa kamu dipilih. "Mereka memilihku karena suatu alasan. Biarkan aku membuktikan bahwa aku memang layak," ujar Hannah. Menurutnya, setidaknya kita tidak mengecewakan orang yang sudah mempercayai kita.

Ketiga, bingkai ulang impostor syndrome. Nadine mengutip kreator konten Vanessa Doms yang menyarankan agar kita tidak hanya mencari penyebab di buku self-help, tetapi melihat celah yang bisa dikembangkan. "Mungkin kamu merasa seperti impostor karena kamu memang impostor? Tapi tidak apa-apa," kata Nadine menirukan. Jika ingin menjadi penulis, apakah kamu sudah menulis setiap hari? Jika ingin menjadi ahli di bidang tertentu, apakah kamu sudah belajar cukup? Fokus pada peningkatan kemampuan, bukan pada keraguan.

Luka yang Perlu Disembuhkan

Nadine menegaskan bahwa tidak ada yang salah dengan perasaan tidak layak. Kekurangan kemampuan hanyalah bagian dari perjalanan. "Masih banyak yang bisa kupelajari. Aku belum sampai di titik akhir," ujarnya. Namun, ia juga mengakui bahwa mendengarkan suara negatif di kepala memang sulit dihindari. Proses penyembuhan membutuhkan waktu dan kesabaran.

Bagi para ibu, penting untuk menyadari bahwa pola asuh yang membatasi ekspresi anak perempuan bisa berdampak jangka panjang. Memberi ruang pada anak perempuan untuk bersuara, berekspresi, dan mengambil risiko sama pentingnya dengan memberi ruang pada anak laki-laki. Dengan begitu, kita membantu generasi berikutnya tumbuh tanpa bayang-bayang impostor syndrome.