Suara gemuruh dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Blawan Ijen di Bondowoso, Jawa Timur, pada pagi hari di bulan April 2020, masih terngiang di telinga warga. Ledakan saat pengeboran sumur eksplorasi itu membuat warga berlarian, meninggalkan ladang dan rumah mereka. Bagi perempuan setempat, trauma itu bukan satu-satunya beban yang harus mereka pikul.
Ketika Lahan Kopi Berubah Fungsi
Desa Kalianyar, yang menjadi pusat proyek PLTP, dulunya adalah hamparan kebun kopi warisan turun-temurun. Kopi bukan sekadar tanaman, melainkan tabungan untuk biaya sekolah anak, kebutuhan sehari-hari, hingga masa tua. Namun, sejak proyek berjalan pada 2020, lahan seluas lebih dari 2.800 hektare berubah fungsi menjadi infrastruktur proyek, termasuk sumur pengeboran dan jaringan transmisi. Akibatnya, pohon kopi yang sudah produktif ditebang, dan kompensasi tak kunjung datang.
Seorang perangkat desa mengungkapkan, ada petani yang kehilangan pohon kopi berusia 4 tahun—yang seharusnya sudah panen—tanpa ganti rugi. Padahal, menanam kembali kopi butuh modal Rp15-25 juta per hektare dan waktu 3-4 tahun hingga panen. Bagi petani, kerugian ini bukan sekadar soal tanaman, tapi masa depan keluarga.
Kualitas Air dan Hasil Pertanian Menurun
Tak hanya kopi, tanaman lain seperti cabai juga terdampak. Seorang petani bernama Firman menunjukkan bahwa tanaman cabainya tidak lagi tumbuh subur seperti dulu. Rambatannya mengecil dari 100 sentimeter menjadi hanya 50 sentimeter. Selain itu, warga mengeluhkan perubahan kualitas sumber air dan bau gas yang kadang tercium dari proyek.
Perempuan di desa ini menjadi pihak yang paling merasakan dampak. Mereka tidak hanya bekerja di ladang, tetapi juga bertanggung jawab atas urusan domestik: memastikan air bersih tersedia, merawat anggota keluarga yang sakit, dan mengatur keuangan rumah tangga. Ketika hasil pertanian menurun, mereka harus pintar-pintar mengelola pengeluaran yang justru meningkat karena biaya kesehatan dan kebutuhan sehari-hari.
Beban Ganda Perempuan di Tengah Proyek Energi
Di saat suami atau anggota keluarga lain kehilangan penghasilan, perempuan sering kali menjadi tulang punggung. Mereka harus mencari cara untuk tetap menghidupi keluarga, entah dengan bekerja serabutan atau meminjam uang ke tetangga. Belum lagi kekhawatiran akan keselamatan akibat proyek yang berisiko tinggi, seperti ledakan yang pernah terjadi.
Seorang ibu bernama Silvi, yang baru saja melahirkan saat ledakan terjadi, harus menggendong bayinya dan ikut evakuasi. Trauma itu masih membekas hingga kini, membuatnya selalu waspada setiap kali mendengar suara aneh dari arah proyek.
Mencari Keadilan di Tengah Ambisi Hijau
Meskipun proyek panas bumi digadang sebagai energi bersih, kenyataannya warga setempat justru menanggung biaya lingkungan dan sosial yang tak sedikit. Mereka berharap ada kompensasi yang adil, baik berupa ganti rugi lahan maupun bantuan untuk memulihkan mata pencaharian. Namun, hingga saat ini, banyak tuntutan yang belum terpenuhi.
Kisah perempuan di kaki Ijen ini menjadi pengingat bahwa transisi energi harus inklusif dan tidak meninggalkan mereka yang paling rentan. Jangan sampai mimpi energi hijau justru mengorbankan masa depan mereka yang selama ini menjadi penjaga alam.