Setiap ibu pasti setuju bahwa memiliki teman itu penting. Mereka jadi tempat curhat, sumber tawa, dan penyemangat saat lelah mengurus rumah tangga, anak, dan pekerjaan. Tapi, hati-hati, Bunda. Ada kalanya pertemanan malah bikin kita tambah capek, bukan segar.
Pertemanan yang tidak sehat bisa datang dalam berbagai bentuk. Mulai dari yang kelihatannya biasa saja, sampai yang terang-terangan menyakitkan. Efeknya? Energi mental terkuras, rasa percaya diri menurun, bahkan bisa mengganggu kesehatan fisik. Seperti kata sebuah studi, hubungan sosial yang positif bisa memperpanjang umur dan menurunkan risiko depresi. Sebaliknya, pertemanan toksik justru sebaliknya.
9 Tanda Pertemanan yang Bikin Energi Terkuras
Berikut ini adalah sembilan ciri yang perlu Bunda waspadai. Jika beberapa di antaranya terus terjadi, mungkin sudah saatnya mempertimbangkan kembali hubungan tersebut.
- Suka menyebarkan rahasia: Kamu curhat soal masalah pribadi, eh besoknya semua teman sudah tahu detailnya. Padahal kamu sudah minta untuk dirahasiakan. Ini tanda dia tidak menghargai kepercayaanmu.
- Persaingan tidak sehat: Pertemanan seharusnya seperti tim, bukan arena lomba. Jika setiap obrolan berubah jadi perbandingan—siapa lebih sukses, siapa lebih langsing—itu melelahkan.
- Hanya ada saat senang: Teman ini rajin muncul kalau ada acara seru atau butuh bantuan, tapi hilang saat kamu sedang susah. Telepon atau chat-mu tidak dibalas.
- Suka merendahkan: Bercanda itu wajar, tapi jika sering ada sindiran atau komentar yang bikin kamu merasa kecil, itu bukan candaan lagi. Itu penghinaan.
- Membuatmu gelisah: Setiap kali habis bertemu atau chatting dengan dia, kamu merasa tidak nyaman, cemas, atau malah lega karena acara selesai. Perasaan ini patut diwaspadai.
- Membandingkan dengan orang lain: “Lihat si A, rumahnya lebih besar,” atau “Kenapa enggak berdandan kayak si B?” Teman yang baik menerima kamu apa adanya, tidak membandingkan.
- Ingin mengubah dirimu: Dia terus-menerus mengkritik cara bicaramu, hobi, atau pilihan hidupmu. Seolah-olah kamu harus menjadi versi ideal versi dia, bukan dirimu sendiri.
- Minta maaf tapi tidak tulus: Saat ditegur, dia hanya bilang “Maaf deh” dengan nada datar, lalu menambahkan “tapi…” yang menyalahkan kamu. Permintaan maaf seperti ini hanya basa-basi.
- Kamu malas melihat namanya muncul di layar ponsel: Notifikasi dari teman ini membuatmu enggan membuka chat. Rasanya lebih memilih diabaikan daripada harus membalas.
Sadar atau tidak, pertemanan yang tidak sehat bisa membuat seorang ibu kehilangan semangat. Jika Bunda mengalami beberapa tanda di atas, jangan ragu untuk mengambil jarak. Ingat, menjaga kesehatan mental juga bagian dari self-care. Tidak apa-apa memilih lingkungan pertemanan yang lebih suportif dan positif.