Hari itu, panas terik menyengat area sekitar Gedung DPR/MPR. Di tengah riuh suara orasi dan tumpukan spanduk, tiga perempuan paruh baya terlihat asyik mengobrol. Mereka adalah Olivia, Tata, dan Imelda, tiga sahabat yang sudah malang melintang mengikuti aksi sejak 1998. Dulu mereka masih mahasiswa, kini sudah berstatus ibu-ibu, tapi semangatnya tak pernah luntur.

Kenangan 1998 dan Keresahan Kini

Bagi mereka, aksi bukan sekadar ajang kumpul-kumpul. Ingatan akan lengsernya Soeharto pada 1998 masih membekas. Kini, mereka merasa perlu melawan kebijakan yang dianggap merugikan rakyat, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Imelda mengaku skeptis dengan program tersebut, apalagi setelah ada temuan benda mirip peluru di dalam daging MBG yang menuai kecaman publik.

“Sampai di daging aja ada peluru, ini jelas nggak ada quality control-nya. Rezim ini sangat merugikan masyarakat,” ujar Olivia dengan nada kesal. Menurutnya, program pemerintah kerap dibuat tanpa evaluasi, hanya untuk bagi-bagi proyek. “Terlihat banget dia cuma ingin jadi presiden, bukan pemimpin. Kita muak!” timpal Tata.

Logistik dan Kesehatan: Peran Krusial Perempuan

Tak jauh dari mereka, sekelompok perempuan berbaju pink terlihat sibuk. Mereka adalah relawan dari Nadi Perempuan, tim yang baru dibentuk 24 jam sebelum aksi. Tugas mereka jelas: memastikan para peserta aksi tetap terhidrasi, kenyang, dan sehat. Air mineral, makanan ringan, obat-obatan, hingga oksigen siap mereka bagikan.

Nanda, koordinator tim, menceritakan bahwa semua logistik berasal dari donasi. Terkumpul Rp2,1 juta yang mereka pakai untuk transportasi, membeli peralatan medis, dan mencetak poster. Bahkan, ada warga yang menitipkan rezeki lewat media sosial. “Setiap orang lewat, mereka nanya, ‘ada hansaplast nggak? ada betadine nggak?’ Jadi kita siap siaga,” ujarnya.

Menurut Nanda, kehadiran perempuan di aksi sangat penting. “Perempuan bisa menentukan sendiri bentuk kontribusinya. Kalau belum berani turun langsung, bisa bantu dari rumah lewat media sosial, repost, atau sebar link,” jelasnya.

Peduli Lingkungan di Tengah Aksi

Di sela-sela aksi, dua perempuan lain, Galuh dan Khusna, berjalan sambil membawa kantong sampah hitam. Mereka memungut botol plastik dan bungkus makanan yang berserakan. Aksi bersih-bersih ini bukan sekadar iseng, melainkan bentuk kepedulian mereka terhadap lingkungan. Sebelumnya, mereka juga ikut membagikan makanan dari Dapur Umum Jakarta.

Menariknya, Galuh dan Khusna mengaku ini pertama kalinya mereka ikut aksi. “Kami cuti hari ini, sama bos-bos pada ikut. Ini big step buat kami karena sebelumnya nggak pernah berani demo. Tapi karena sudah panas, kami rasa ada yang harus berubah,” tutur Galuh. Mereka memilih berkontribusi dari sisi yang lebih nyaman, yaitu menjaga kebersihan dan berbagi logistik.

Inti Dari Sebuah Aksi

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa aksi tidak melulu tentang teriakan dan kemarahan. Ada banyak cara untuk menyuarakan pendapat dan berdampak. Mulai dari menyediakan makanan, menjaga kesehatan, hingga memastikan lingkungan tetap bersih. Perempuan-perempuan ini membuktikan bahwa keberanian bisa diwujudkan dalam berbagai rupa, dan setiap kontribusi, sekecil apa pun, berarti.

Reporter: Maya Handayani