Pagi itu Purbaya Yudhi Sadewa masih menjalankan tugasnya sebagai Menteri Keuangan. Ia menghadiri rapat di DPD RI, memaparkan materi tentang anggaran negara tahun depan. Dengan detail, ia menjelaskan dari mana uang negara berasal dan ke mana perginya. Para senator pun menyimak, sesekali diselingi tawa karena gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.

Sidak Pabrik Baja dan Temuan Utang Pajak

Dalam rapat tersebut, Purbaya menceritakan pengalamannya melakukan sidak ke pabrik baja asal China di Pulogadung. Ia menemukan bahwa banyak pekerja di sana berasal dari China dan uang mengalir ke luar negeri. Lebih mengejutkan, pabrik tersebut diduga tidak membayar pajak secara penuh. "Setelah kita periksa pajaknya, mereka punya utang ke saya minimal Rp200 miliar, kalau ditekan lagi mendekati Rp1 triliun," ujarnya. Purbaya pun berjanji akan memperbaiki kinerja pajak demi keadilan bagi industri lokal.

Ia juga menyindir sikap perusahaan China yang dianggap menyepelekan aturan Indonesia. "Itu kan menghina kita. Kita akan antem yang begitu-begitu, walaupun saya kelihatan ketawa-ketawa, ini kurang ajar," tegasnya sambil menghantamkan kepalan tangan ke meja.

Kebijakan Cepat dan Gaya Koboi

Purbaya memang dikenal sebagai menteri yang bergerak cepat. Belum genap seminggu menjabat, ia memindahkan Rp200 triliun dana pemerintah di Bank Indonesia ke lima bank Himbara. Tujuannya agar uang yang menganggur bisa bergerak menjadi kredit dan mendorong sektor riil. Ia berpesan agar dana itu tidak diparkir di surat berharga. Jika bank bingung mencari proyek, pemerintah siap menyuplai daftar proyek yang bisa dibiayai.

Kebijakan ini sempat menuai kritik dari Didik J Rachbini yang menyebutnya melanggar tiga undang-undang. Namun Purbaya dengan santai menjawab, "Pak Didik salah undang-undangnya. Ini bukan perubahan anggaran, hanya uang kita dipindahkan saja. Saya sudah konsultasi dengan ahli-ahli hukum di Kemenkeu."

Tak hanya itu, Purbaya juga pernah menelepon sendiri Kring Pajak untuk mengetahui langsung bagaimana layanan Coretax bekerja. Ia ingin tahu dari tangan pertama, bukan sekadar laporan anak buah.

Danantara dan Cadangan Anggaran

Pada 28 Agustus 2026, Purbaya mengumumkan bahwa Rp120 triliun keuntungan Danantara akan masuk kas negara sebagai cadangan anggaran. "Sudah dipastikan. Tinggal ditentukan kapan dia mau kirim, itu saja," katanya. Ia mengakui Danantara sempat protes, namun kebijakan itu sudah menjadi keputusan Presiden Prabowo. "Saya terima aja, kan enak," tuturnya.

Panggilan dari Istana dan Akhir Jabatan

Rapat di DPD RI itu tiba-tiba dijeda. Purbaya menerima panggilan telepon dari Istana. Menteri Sekretaris Negara memanggilnya. Setelah jeda, Purbaya tak terlihat lagi di ruang rapat. Tayangan langsung menampilkan Wakil Menteri PPN, Febrian Alphyanto Ruddyard, melanjutkan paparan. Sementara itu, di Istana Kepresidenan, Suahasil Nazara sedang disumpah sebagai menteri baru. Hanya dalam hitungan jam, posisi Purbaya digantikan. Pagi hari ia masih bekerja sebagai Menteri Keuangan, siang harinya ia bukan lagi menteri.

Pelajaran dari Kisah Purbaya

Kisah sehari Purbaya mengajarkan bahwa dalam dunia politik dan pemerintahan, segala hal bisa berubah dengan cepat. Gaya kepemimpinannya yang blak-blakan dan berani mengambil risiko memang menuai pro dan kontra. Namun, semangatnya untuk membenahi pajak dan mendorong perekonomian patut diapresiasi. Bagi kita, mungkin bisa mengambil pelajaran tentang pentingnya integritas dan keberanian dalam bertindak, meski harus menghadapi konsekuensi.

Reporter: Salsabila Wahyudi