Bunda, saat mendengar kata 'orang tua', mungkin yang terbayang adalah kebahagiaan melihat anak tumbuh. Namun, realitas di lapangan tidak selalu seindah itu. Sebuah studi dari World Happiness Report 2025 yang bekerja sama dengan Gallup dan PBB menemukan bahwa tingkat kebahagiaan orang tua di AS lebih rendah daripada mereka yang tidak memiliki anak, dan juga lebih rendah dibandingkan orang tua di negara-negara kaya lainnya.

Ini bukan berarti para orang tua di sana tidak mencintai buah hatinya, lho. Justru sebaliknya, tekanan struktural dan sosiallah yang membuat mereka merasa kewalahan. Yuk, kita bedah satu per satu faktor yang bikin para orang tua di Negeri Paman Man ini stres.

1. Harta yang Terus Terkuras

Salah satu sumber stres terbesar adalah masalah finansial. Biaya membesarkan anak di AS sangat mahal. Mulai dari biaya perawatan kesehatan, pendidikan, hingga penitipan anak yang bisa menguras kantong. Banyak orang tua harus bekerja ekstra keras untuk memenuhi kebutuhan, dan rasa khawatir akan masa depan anak sering menghantui. Kondisi ini jelas memicu stres kronis dan kecemasan yang berkepanjangan.

2. Budaya 'Orang Tua Sempurna' di Media Sosial

Zaman sekarang, standar menjadi orang tua seolah semakin tinggi. Ada tekanan untuk selalu hadir, responsif secara emosional, dan mendukung setiap aspek perkembangan anak. Apalagi dengan adanya media sosial, banyak orang tua yang berlomba menampilkan citra keluarga yang serba ideal. Psikolog menyebut fenomena ini sebagai 'pengasuhan intensif'. Alih-alih bahagia, pola pikir ini justru membuat orang tua merasa lelah, bersalah, dan tidak pernah merasa cukup.

3. Sulitnya Menyeimbangkan Karier dan Keluarga

Berbeda dengan negara maju lain yang memberikan cuti orang tua berbayar panjang, AS tidak memiliki kebijakan tersebut. Banyak orang tua, terutama ibu, harus kembali bekerja tidak lama setelah melahirkan. Mereka pun harus pintar-pintar membagi waktu antara pekerjaan, mengurus rumah, dan mengasuh anak. Siklus ini sangat melelahkan dan membuat risiko kelelahan kerja (burnout) meningkat drastis.

Kesimpulannya: Bukan Anak yang Jadi Masalah

Para peneliti menegaskan, jangan salahkan anak-anak atas ketidakbahagiaan ini. Justru, memiliki anak memberikan makna dan tujuan hidup yang lebih dalam. Masalah sebenarnya adalah kurangnya dukungan dari lingkungan dan negara. Jika orang tua diberikan akses ke penitipan anak yang terjangkau, cuti berbayar, tempat kerja yang fleksibel, dan komunitas yang mendukung, tingkat kebahagiaan mereka pasti akan melonjak.

Jadi, untuk kita para ibu di Indonesia, penting untuk saling mendukung dan tidak terlalu keras pada diri sendiri. Ingat, tidak ada orang tua yang sempurna. Yang terpenting adalah memberikan yang terbaik sesuai kemampuan kita.