Pandji Pragiwaksono, komika yang namanya sudah sangat dikenal di Indonesia, kini sedang menjalani fase baru yang penuh tantangan di Amerika Serikat. Dalam sebuah wawancara, ia berbagi cerita tentang bagaimana ia rela memulai semuanya dari nol, bahkan tampil di panggung-panggung kecil yang jauh dari gemerlap panggung besar di Tanah Air.

Langkah Berani: Tur Internasional Pertama

Pandji telah menjadwalkan tur stand up comedy pertamanya dalam bahasa Inggris yang akan dimulai pada bulan Agustus di Australia, kemudian berlanjut ke Amerika Serikat dan Kanada. Sebelum tur besar itu, ia sengaja mengasah kemampuannya di berbagai open mic di New York. Baginya, ini adalah cara terbaik untuk menguji materi dan melihat bagaimana penonton lokal merespons lawakannya.

Di Indonesia, Pandji sudah terbiasa tampil di hadapan puluhan ribu penonton. Namun di Amerika, ia harus kembali menjadi pendatang baru yang belum dikenal siapa pun. Ini bukan langkah yang mudah, tapi ia menjalaninya dengan penuh dedikasi.

Perbedaan Gaya Komedi: Storytelling vs Tempo Cepat

Salah satu hal yang paling mengejutkan Pandji adalah perbedaan besar antara gaya komedi di Indonesia dan Amerika. Awalnya, ia mengira cukup menerjemahkan materi lamanya ke bahasa Inggris. Ternyata, kenyataannya jauh lebih rumit.

Ia menjelaskan, penonton Indonesia sangat menyukai storytelling. Mereka sabar mendengarkan cerita panjang sebelum akhirnya sampai pada punchline yang besar. Sementara itu, penonton di New York punya tempo yang jauh lebih cepat. Mereka ingin setup dan punchline yang datang berturut-turut tanpa banyak basa-basi.

"Orang-orang di New York maunya setup, punchline, setup, punchline," ujarnya. Ini memaksanya untuk mengubah total cara ia menulis dan membawakan materi.

Belajar dari Open Mic dan Krisis Identitas

Meski sudah punya nama besar, Pandji tidak malu untuk belajar dari open mic. Dari panggung-panggung kecil itulah ia justru banyak menyerap kebiasaan sosial orang Amerika yang kemudian menjadi bahan tulisan. Ia mengaku jadi lebih paham dinamika hubungan orang tua-anak di sana, bahkan sampai tahu stereotip-stereotip yang melekat pada negara bagian tertentu seperti Florida.

Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus. Pandji sempat mengalami krisis identitas ketika pertama kali menetap di Amerika. Ia mencoba membawakan materi tentang isu-isu terkini, tapi sadar bahwa banyak komika lain yang melakukan hal serupa. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengangkat cerita tentang Indonesia sebagai ciri khasnya di panggung internasional.

Menariknya, materi yang ia bawakan dalam bahasa Inggris cenderung lebih ringan dibandingkan saat tampil di Indonesia. Di Tanah Air, ia sering mengangkat isu politik dan kritik terhadap pemerintah. "Bahkan gaya bicara saya pun berbeda. Seolah-olah itu adalah dua komedian yang berbeda," katanya.

Menjaga Fokus dan Mengendalikan Ego

Bagi Pandji, open mic adalah ruang uji yang jujur. Di Indonesia, ia sering merasa ragu apakah penonton tertawa karena leluconnya benar-benar lucu atau hanya karena yang tampil adalah dirinya yang terkenal. Di Amerika, ia bisa mendapatkan penilaian yang lebih autentik.

Namun, godaan untuk kembali ke Indonesia selalu ada. Saat merasa lelah atau frustrasi, ia sempat berpikir akan lebih mudah jika memulai lagi di Tanah Air. "Sesekali ego memang muncul, tetapi saya harus mengendalikannya dan mengingat bahwa ada proses yang harus saya lewati," pungkasnya.

Kisah Pandji ini mengajarkan kita bahwa kesuksesan bukanlah tujuan akhir. Berani memulai dari nol di tempat baru adalah bukti keberanian dan komitmen untuk terus berkembang. Bagi para wanita karier, ini juga menjadi inspirasi bahwa tidak ada kata terlambat untuk mengejar mimpi, meski harus memulai dari bawah lagi.